Menurut
Lonergan (1993) untuk menjamin terlaksananya pembangunan yang berwawasan
lingkungan, ada tiga dimensi penting yang harus dipertimbangkan, yaitu :
dimensi ekonomi, dimensi politik dan dimensi sosial serta budaya.
1. Pertama
adalah dimensi ekonomi yang menghubungkan pengaruh-pengaruh unsur makroekonomi
dan mikroekonomi pada lingkungan dan bagaimana sumber daya alam diperlakukan
dalam analisa ekonomi.
Penjelasan
: “Artinya ketika kita merencanakan
sebuah pembangunan kita harus mengadakan sebuah analisa khusus yang didasarkan
kepada Ekonomi, dan di dalam ilmu pengetahuan keterkaitan antara aktivitas
ekonomi dan lingkungan dikaji dalam bidang ilmu yang dikenal sebagai ilmu
ekonomi sumberdaya dan lingkungan. Inti dari kajian ilmu sumber daya dan
lingkungan ini dalam pembangunan kita harus mempertimbangkan kajian ekonomi
yang didasarkan pada analisa dampak lingkungan dari aktivitas ekonomi umat
manusia seperti kegiatan produksi dan konsumsi barang dan jasa; dan analisa
dampak ekonomi terhadap kerusakan alam seperti kesehatan manusia dan hewan;
kerusakan terhadap lingkungan fisik (buatan manusia) seperti bangunan, intalasi
dan lain sebagainya”.
Contoh :
“untuk membangun sebuah mall atau komplek pertokoan disebuah daerah di
Indonesia, kajian ilmu ekonomi dan sumberdaya alam ini seharusnya menjadi
rujukan pertimbangan dan analisa dalam perencanaan sebuah pembangunan. Analisa
harus mempertimbangkan apakah ketika mall tersebut dibangun akan berpengaruh
kepada kegiatan produksi barang dan konsumsi barang penduduk setempat ? dan
yang paling penting adalah dampak kerusakan bagi lingkungan sekitar. Kita
ketahui bersama ketika sebuah mall dibangun pasti akan ada berbagai masalah
lingkungan yang akan dihadapi yakni kemacetan dan polusi udara.”
2. Kedua,
adalah dimensi politik yang mencangkup proses politik yang menentukan
penampilan dan sosok pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan degradasi
lingkungan pada suatu negara. Diamensi ini juga termasuk peranan agen
masyarakat, struktur sosial dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Penjelasan
: Pembangunan
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dimasa sekarang dan mengurangi
pemenuhan kebutuhan masyarakat dimasa yang akan datang. Dalam proses
pembangunan peranan kondisi politik disuatu negara sangat berpengaruh karena
dalam pembangunan nasional pada dasarnya sangat membutuhkan kesinergian antara
masyarakat dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama dalam pembangunan dan
pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, serta menciptakan suasana
yang menunjang. Kegiatan masyarakat dan kegiatan pemerintah harus saling
menunjang, saling mengisi, saling melengkapi dalam memajukan masyarakat dan
nasional pada umumnya.
Contoh
:
Masa orde baru 1966 – 1998 adalah masa kestabilan politik yang terpanjang dalam
sejarah Indonesia Merdek. Hasilnya berupa pembangunan Infrastruktur
besar-besaran yang memperlancar kegiatan ekonomi, dan makin menyatukan
Indonesia serta perbaikan berarti dari berbagai indikator sosial dan
pembangunan manusia.
3. Ketiga,
adalah dimensi sosial dan budaya yang mengaitkan antara tradisi atau sejarah,
dominasi ilmu pengetahuan barat, serta pola pemikiran dan tradisi agama. Ketiga
dimensi ini berinteraksi satu sama lain untuk mendorong terciptanya pembangunan
yang berwawasan lingkungan.
Penjelasan
: Prinsip dari Pembangunan berwawasan lingkungan secara umum adalah
pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok kemakmuran rakyat dilakukan secara
terencana, bertanggungjawab, dan sesuai daya dukungnya dengan mengutamakan
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan
keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan berkelanjutan (sustainable
development). Dimensi ketiga yang harus dipertimbangkan dalam suatu pembangunan
menurut Logernan ini menurut saya memang sangat perlu diperhatikan mengingat
prinsip pembangunan berwawasan lingkungan secara umum tersebut dimana dalam
setiap pembangunan perlu memperhatikan bagaimana budaya, tradisi, pola pikir
dan tradisi agama masyarakat setempat karena pada prinsipnya pembangunan
bertujuan untuk meningkatkan kemamkuran rakyat.
Pembangunan
berkelanjutan sesungguhnya merupakan wacana moral dan kultural. Hal ini
disebabkan karena yang menjadi persoalan utama adalah pada bentuk dan arah
peradaban seperti apa yang akan dikembangkan manusia di Bumi ini. Kearifan
lingkungan lokal, sekaligus plural perlu terus dikembangkan. Tetapi tidak hanya
diposisikan sebagai upaya untuk ”melawan” kecenderungan globalisasi dan westernisasi,
melainkan satu ”pilihan”. Dengan kata lain, pengembangan kearifan lingkungan
tidak selalu harus ”dibenturkan” globalisasi/westernisasi, karena dia adalah
”keyakinan” sekaligus ”pilihan-pilihan” sadar tiap kelompok manusia di Bumi
untuk mengembangkan peradaban yang plural, sekaligus identitas yang beragam.
Contoh
: contoh pembangunan berwawasan lingkungan harus memperhatikan budaya, tradisi
agama adalah seperti di Bali, Rencana Pembangunan Pariwisata Ditentang di Bali.
Rencana pemerintah untuk menarik lebih banyak wisatawan ke pura Besakih
ditentang oleh para pemimpin umat Hindu di Bali. Pasalnya rencana ini dianggap
telah merendahkan agama Hindu di Bali.Persatuan umat Hindu Indonesia menganggap
booming Industri pariwisata di Bali sebagai pedang bermata dua. Karena hal ini
bisa jadi ancaman terkikisnya budaya Hindu Bali yang pada kenyataannya menjadi
daya tarik bagi jutaan pengunjung pulau Bali.
hal ini
menunjukan bahwa dimensi terakhir yang dikemukakan oleh Logernan memang sangat
perlu untuk dipertimbangkan mengingat setiap masyarakat memiliki tradisi dan
budaya yang berbeda. Apalagi di Indonesia, Indonesia terkenal dengan tradisi
masyarakatnya yang beragam dan kebanyakan masyarakat masih memetuhi norma-norma
adat yang berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar